Pemberdayaan Desa: Kesuksesan Tidak Hanya Ada di Kota Besar

Bagikan:

Oleh Nikson Sinaga; Edi Saputra.

Karier cemerlang dengan gaji Rp 25 juta per bulan ternyata tidak membuat Tantan Rustandi (47) puas. Ia justru memilih pulang kampung dan meninggalkan pekerjaan di Ibu Kota. Sebagai gantinya, ia memulai usaha akar wangi dari nol. Pilihan yang semula dicibir orang-orang di sekitarnya.

Tantan ingin membuktikan bahwa kesuksesan tidak hanya ada di kota besar. Ia prihatin melihat warga desa yang berduyun-duyun pergi ke kota mencari pekerjaan. ”Padahal, potensi bisnis di desa sangat besar, tetapi tidak tergarap,” ujar Tantan di rumahnya di Desa Cintadamai, Sukaresmi, Garut, Jawa Barat, Sabtu (1/7).

Keputusan tujuh tahun lalu itu tidak mudah karena ia harus mempertaruhkan karier dan masa depan keluarga. ”Tahun pertama pindah ke desa adalah masa yang paling sulit,” kata Tantan yang pernah menjadi asisten vice president salah satu bank multinasional.

Tantan memulai bisnis dengan memperbaiki budidaya dan tata niaga akar wangi. Dulu, di pasar internasional, minyak akar wangi dari Garut dikenal berkualitas rendah dengan sebutan smoke oil (minyak gosong). Budidaya akar wangi di Garut juga dinilai tidak ramah lingkungan karena ditanam di lereng Gunung Cikuray sehingga kerap menimbulkan erosi, bahkan longsor.

Tantan lalu meminta petani memanen akar wangi secara bertahap dan menyisakan tanaman di baris bawah, tengah, dan atas untuk menahan tanah dan mencegah erosi.

Tantan juga meminta petani memperbaiki cara panen. Ia pun membangun pabrik penyulingan minyak akar wangi. Pabrik itu merupakan yang pertama di desanya. Dengan semua perbaikan itu, ia mendapatkan sertifikat The Vetiver Network International yang menyatakan produknya ramah lingkungan. Produknya pun dikirim ke Eropa sebagai bahan baku parfum, kosmetik, sabun, dan obat. Ia baru bisa memenuhi 15 persen permintaan.

Tantan meyakini, keputusannya meninggalkan karier di Jakarta untuk membangun
desa sangat tepat. Kini, ia menghasilkan 660 kilogram (kg) minyak akar wangi per tahun dengan harga Rp 4 juta per kg. Usahanya dibantu 29 warga desa dan 20 petani lain sebagai mitra.

Tantan juga membangun SMP Plus Rasana Rasyidah yang gratis untuk warga desa. Selain itu, ia mengaspal jalan desa dengan cara menyediakan bahan, lalu warga bergotong royong mengerjakan jalan itu.

Lepas dari jerat rentenir

Sukses tidak harus dengan bekerja di kota juga dipegang oleh Akhmad Sobirin (30), Ketua Kelompok Petani Kelapa Manggar Jaya di Desa Semedo, Pakuncen, Banyumas, Jawa Tengah.

Setamat kuliah teknik mesin di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, pada 2010, ia bekerja di perusahaan baja dan perusahaan pembiayaan. Ia juga pernah ditunjuk menjadi kepala cabang perusahaan pembiayaan, tetapi ditolaknya. Rasa prihatin terhadap nasib petani kelapa di kampung mendorongnya kembali ke desa.

Tahun 2012, saat kembali ke desa, petani kelapa di Semedo dikuasai tengkulak dan mudah terjerat utang. Sobirin mengumpulkan 25 petani untuk membentuk kelompok dengan tujuan mendapat kepastian pasar dan memperbaiki kualitas produk.

Sobirin ditunjuk menjadi ketua kelompok. Ia mulai dengan membeli gula dari petani Rp 10.000 per kg untuk membangun kepercayaan. Seiring waktu, kelompok tani itu mendapat bantuan oven dari pemerintah untuk mengolah gula. Ia juga mendapatkan pasar melalui para eksportir.

Kini, gula dari petani dibeli Rp 14.500-Rp 15.000 per kg, lalu kualitasnya ditingkatkan. Ada 110 petani yang bergabung. Gula yang mereka produksi dijual ke 16 negara melalui eksportir. Keuntungan kelompok tani ini rata-rata Rp 30 juta per bulan. Laba bersih itu ada yang untuk kas kelompok, beasiswa anak petani tidak mampu, tunjangan hari raya, dan iuran BPJS Ketenagakerjaan bagi petani.

Berbekal pengetahuan, keduanya membuktikan, desa juga bisa memberi kesejahteraan. ***

(NIKSON SINAGA/EDI SAPUTRA)

KOMPAS edisi Senin 3 Juli 2017
Halaman: 1

Bagikan: